Pendidikan

9 Metode Bimba Rainbow Kids Waringinkurung Atasi Anak Susah Membaca

SERANG, LB– Apakah anak anda susah belajar membaca? Tidak perlu khawatir, karena sekarang ada solusinya. Ya, Bimbingan Belajar (Bimba) Rainbow Kids yang berlokasi di Perumahan Taman Krakatau, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang hadir untuk mengatasi persoalan tersebut.

Meski baru satu bulan didirikan, ruang pembelajaran anak ini sudah memiliki 54 siswa. Bimba Rainbow Kids khusus menerima anak usia 3-6 tahun. Kehadiran tempat les ini juga sepertinya cocok bagi anak-anak penderita Disleksia atau kesulitan belajar yang menyebabkan masalah membaca, menulis, dan mengeja.

Jumat (22/4/2022), di lokasi Bimba, anak-anak terlihat gembira menikmati pembelajaran sambil bermain yang diterapkan para tenaga pendidik di sana.

Owner Bimba Rainbow Kids, Sugiyanti yang juga menjadi salah satu pengajar di Bimba mengatakan, siswa yang belajar di Bimba yang dikelolanya beragam. Dari yang mengalami keterlambatan bicara hingga mengalami Disleksia.

Advertisement

Bahkan, kata perempuan yang akrab disapa Tya itu, Bimbanya pernah kedatangan seorang ibu yang anaknya berkebutuhan khusus ingin ikut belajar. Kendati demikian, pihaknya tetap menerima dengan memberikan pemahaman dulu kepada orangtuanya agar tidak tersinggung.

Tidak hanya itu, kata Tya, pihaknya juga pernah kedatangan orangtua yang membawa anaknya sudah kelas 4 SD tetapi belum lancar baca. Namun, pihaknya tetap bijaksana dengan mengatakan akan berusaha membantu semaksimal mungkin.

“Tapi, kembali lagi hasil akhir tergantung perkembangan anak, dan tergantung ridho Allah anak ini bisa sampai membaca,” ujar Tya.

Dijelaskan Tya, Bimba Rainbow Kids dikhususkan untuk anak 3-6 tahun, mengajarkan membaca, menulis, berhitung, pembinaan karakter, membangun kreativitas, hingga mengajarkan Bahasa Inggris.

“Tapi, kalau ada anak usia di atas enam tahun jika belum lancar membaca, tetap kita terima. Kita ada empat tenaga pendidik dan saat ini sudah ada 54 siswa,” ungkap Tya.

Salah satu metode pembelajaran di Bimba dipraktekkan kepada siswa.

Adapun teknik mengajar di Bimba, disebutkan Tya, ada sembilan motode. Yakni, Metode Multi Sensorik, metode ini mendayagunakan kemampuan visual atau kemampuan penglihatan siswa, auditori/kemampuan pendengaran, kinestetik/kesadaran pada gerak dan juga taktil atau peradaban pada siswa.

“Metode ini prakteknya siswa diminta menulis huruf-huruf besar di lembaran kertas,” terang Tya.

Selanjutnya, Metode Fonik atau bunyi metode yang memanfaatkan kemampuan visual dan auditori anak, dengan cara menamai huruf sesuai bunyi bacaannya, seperti B yang dibunyikan ‘eb’ dan huruf C dibunyikan ‘ec’.

Lalu, Metode Linguistik atau metode yang mengajarkan mengenal kata secara utuh. Metode ini menekankan pada kata-kata yang mirip dengan adanya penekanan. Metode ini bisa membuat siswa mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.

Kemudian Metode Fernald, metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diuacapkan siswa, dan ada setiap kata diajarkan secara utuh. Contoh, siswa mempelajari tulisan guru dengan melihat cara guru menulis sambil mengucapkannya.

Berikutnya, Metode Proyek, metode ini memberikan kesempatan anak untuk belajar bertahap, anak dikondisikan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Metode ini menggunakan sumber alam sekitar dan kegiatan sehari-hari yang sederhana.

Kemudian, Metode Tanya Jawab, metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tertentu pada anak. Metode digunakan untuk mengetahui pengalaman dan pemikiran yang dimiliki anak. Metode ini juga memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.

Selanjutnya, Metode Bermain yang sangat penting pada masa anak-anak. Semua kegiatan pembelajaran pada masa anak-anak dilakukan dengan konteks bermain, memberikan kepuasan tersendiri bagi anak.

“Bermain kan pekerjaan anak dan gambaran pertumbuhan anak,” jelas Tya.

Berikutnya, Metode Pemberian Tugas, metode ini memberikan kesempatan anak untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh guru. Anak diberi kesempatan melaksanakan kegiatan sesuai petunjuk langsung oleh guru.

Terakhir, Metode Karya Wisata, yaitu metode yang dilaksanakan dengan mengunjungi objek wisata sesuai tema. Melalui karya wisata, anak memperoleh pengalaman belajar secara langsung dengan menggunakan seluruh panca indra. Kegiatan karya wisata dilakukan di luar lembaga.

Intinya, kata Tya, metode ini mengajarkan anak membaca dan berhitung melalui permainan agar anak setingkat penderita Disleksia saja bisa mudah memahami.

“Ini proses pembelajaran biar mudah dan ingat, pakai alat permainan edukatif walaupun sederhana, seperti kotak tongkat huruf,” pungkasnya. (Nizar)

Back to top button