Kesehatan

Angka Stunting Balita di Kota Tangerang Diklaim Menurun

TANGERANG, LB– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mengklaim, angka stunting atau kekurangan gizi di Kota Tangerang, khususnya bayi di bawah lima tahun (balita) menurun. Dari 19,1 persen pada 2018 menjadi 16,4 persen pada 2019.

Kepala Dinkes Kota Tangerang dr Dini Anggraeni mengatakan, pihaknya memberikan perhatian khusus dalam upaya peningkatan status gizi masyarakat, khususnya pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK).

Hal itu, kata Dini, dilakukan sejak usia dalam kandungan hingga usia dua tahun, serta memasuki masa balita sebagai masa emas pertumbuhan dan perkembangan anak. Itu sesuai Peraturan Walikota (Perwal) Tangerang Nomor 87 tahun 2019 tentang Penanggulangan Masalah Gizi.

“Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Daerah) 2018 menunjukkan angka stunting pada balita di Kota Tangerang 19,1 persen. Paling rendah di Provinsi Banten,” ungkap Dini melalui sambungan telepon seluler, Senin (8/11/2021).

Advertisement

Angka itu, sambung Dini, kembali turun menjadi 16,4 persen berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019, dimana data stunting di Provinsi Banten sebesar 23,4 persen.

“Kita sedang mengejar target penurunan angka stunting di bawah target nasional yaitu 14 persen pada 2024,” ungkapnya.

Menurut Dini, dibutuhkan peran semua elemen dan kesadaran orangtua dalam pemenuhan gizi anak agar tidak terjadi stunting. Oleh karena itu, kata Dini, pihaknya saat ini melibatkan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam upaya penanggulangan stunting.

“Kita lakukan aksi konvergensi penurunan stunting untuk melaksanakan intervensi sensitif yang biasanya dilakukan sektor di luar sektor kesehatan,” terangnya.

Dalam hal intervensi, kata Dini, secara spesifik yang dilakukan pada sektor kesehatan, yaitu di setiap puskesmas tersedia Pos Gizi sebagai sarana edukasi dan perubahan perilaku keluarga balita dan bergerak memantau warga yang kekurangan gizi.

Pihaknya sudah mempunyai Inovasi program ‘Laksa Gurih’ (Tata laksana Gizi Buruk agar Segera Pulih) untuk mendampingi balita gizi buruk agar cepat membaik dan mencegah terjadinya stunting bila dalam jangka panjang tidak segera diintervensi.

Sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini, lanjut Dini, dibuat pula inovasi “Yuk Jaim” (Yuk Jadi Remaja Anti Anemia) berupa edukasi gizi seimbang, pencegahan anemia, dan distribusi tablet tambah darah bagi remaja puteri.

Dalam masa kehamilan, Dini mengimbau, untuk memeriksakan kehamilan secara rutin dan dipantau melalui aplikasi “EMAK IDEP” (Sistem Informasi Kehamilan Terintegrasi dan Terpadu), yakni edukasi melalui kelas ibu hamil, termasuk mengenai gizi seimbang, persiapan inisiasi menyusu dini saat melahirkan dan pemberian ASI eksklusif.

Menurutnya, pencegahan gizi buruk juga dibutuhkan dukungan dari sosok ayah selama masa pemberian ASI, sehingga dibentuk kelas bagi para ayah, seperti di puskesmas ada program Larangan Utara dalam bentuk Kelompok Ayah Peduli ASI (KAPAS), serta berbagai inovasi lain yang mendukung pemenuhan gizi.

“Khususnya remaja, ibu hamil, dan balita sebagai upaya pencegahan dan penurunan stunting,” pungkasnya. (Eky Fajrin/zai)

Back to top button