Inovasi

Antisipasi Banjir dan La Nina, Ini Yang Dilakukan Pemkot Tangerang!

TANGERANG, LB-Memasuki musim hujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mulai melakukan persiapan, terutama mengantisipasi ancaman fenomena La Nina yang berpotensi menyebabkan banjir dan badai.

Itu dibahas dalam acara diskusi Fraksi Teras bertemakan ‘Dibayangi La Nina, Kota Tangerang Sudah Apa?’ yang diselenggarakan oleh Solusi Moement di Museum TMP Taruna, Kota Tangerang, Rabu (3/11/2021). Acara menghadirikan nara sumber yaitu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang Decky Priambodo.

Decky memprediksi, fenomena La Nina kali ini bisa lebih buruk. Berkaca pada tahun sebelumnya, kata Decky, pihaknya sudah melakukan mitigasi bencana. Pertama, melakukan pemeliharaan fasilitas untuk mengantisipasi banjir, seperti perbaikan saluran drainase dan pembersihan jalan.

Kemudian pembersihan terhadap endapan dan sampah, serta topografi yang cenderung datar. Hal itu dilakukan agar sampah maupun pasir tidak mengendap ketika turun hujan.

Advertisement

“Jadi, kami lakukan normalisasi dan perbersihan saluran drainase,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemeliharaan pintu air dan pompa. Total ada 342 pintu air yang tersebar di Kota Tangerang. Lalu menyediakan 288 pompa tersebar di wilayah Kota Tangerang, dengan teknis pelayanan permanen hingga mobile.

“Intinya, kami pastikan setiap genangan yang terjadi bisa diatasi,” tegasnya.

Decky juga menyebutkan, pihaknya juga melakukan normalisasi tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Tangerang, yakni Sungai Cirarab, Sungai Cisadane, dan Sungai Angke. Selain itu juga melalukan pengendalian embung dan pembuatan long storage atau penyimpanan lama.

Pihaknya juga tahun ini untuk mengantisipasi banjir melakukan perbaikan dan pembangunan infrastruktur. Di antaranya rehabilitasi tanggul di 18 lokasi dengan total panjang dua kilometer. Lalu, pembangunan saluran drainase makro di tujuh lokasi sepanjang 2,3 kilometer. Saluran drainase lingkungan dibangun di 304 lokasi dengan total panjang saluran drainase mencapai 69 ribu meter.

“Jadi, anggaran yang dialokasikan PUPR khusus untuk antisipasi banjir mencapai Rp185,84 miliar. Jumlah itu setara dengan 33,7 persen anggaran PUPR di 2021 yang mencapai Rp548 miliar,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ, pihaknya juga intens berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Cisadane-Ciliwung (BBWSCC) terkait penanganan banjir yang disebabkan kali dan sungai kewenangan BBWSCC.

Sesuai masterplan antisipasi banjir pada 2017 di Kota Tangerang dibagi berdasarkan tiga DAS, ditambah DAS sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Katanya, penanganan setiap DAS berbeda. Dari tiga plus satu DAS itu, Kota Tangerang memiliki 32 Sub DAS, detailnya berdasarkan area dilihat berdasarkan topografi masing-masing wilayah DAS.

“Sungai kecil kita kluster lagi. Kita lihat dari sisi mikro sehingga makronya kelihatan,” terangnya.

Dari situ, kata Decky, pihaknya melakukan pola untuk pengembangan dan rencana induk, sehingga penanganan menjadi kluster. Seperti embung dan sumur resapan nanti sesuai klusternya, sehingga penanganannya terintegrasi.

Kendati berbagai upaya sudah dilakukan, lanjut Decky, Pemkot Tangerang tetap sulit melawan alam, tetapi bukan berarti tidak bisa ditangani.

Terkait itu, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang Baihaki mengatakan, Pemkot Tangerang masih memiliki pekerjaan rumah (PR) terkait persoalan banjir, dimana banjir terus berulang melanda Kota Tangerang setiap musim hujan. Contohnya wilayah langganan banjir seperti di Kecamatan Periuk, Ciledug, dan Kecamatan Karang Tengah.

“Saya meminta Pemkot Tangerang bertindak cepat dan efektif, karena masyarakat di bawah itu tidak bisa menunggu,” pintanya.

Harusnya, menurut Baihaki, upaya penanggulangan banjir dilakukan sebelum musim hujan tiba. Ia khawatir, upaya yang dilakukan saat ini belum efektif lantaran berbagai proyek penanggulangan banjir belum rampung, padahal musim hujan sudah tiba.

“Masyarakat juga harus disiapkan evakuasi mandiri. Olah karenanya, saya minta Pemkot membuat semacam gerakan menyeluruh, seperti gerakan daerah. Dalam tempo dua bulan, saya yakin masyarakat paham sehingga lebih tenang,” sarannya.

Politisi Partai Demokrat ini juga meminta Pemkot Tangerang intensif berkoordinasi dengan BBWSCC, seperti merevisi desain antisipasi banjir agar dilakukan cepat.

“Desain harus integral menyeluruh dan tidak bolak balik. Jadi, sekalian saja desainnya jangan bolak balik, nanti membuat koordinasi jadi panjang,” pungkasnya. (Eky Fajrin/zai)

Back to top button