HeadlineHukrim

Curangi Pengisian BBM, 2 Bos SPBU di Kibin Digiring Polda Banten

SERANG, LB – Ditreskrimsus Polda Banten berhasil mengungkap kecurangan perdagangan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasion Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Gorda Nomor 34-42117 di Jalan Raya Serang – Jakarta KM 70 Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten pada Senin (06/06/2022) sekira pukul 13.00 WIB. Atas kecurangan itu, dua petinggi SPBU ditetapkan sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Shinto Silitonga mengatakan, modus kecurangan pengisian BBM yang dilakukan tersangka yaitu dengan cara memodifikasi mesin dispenser menggunakan alat berupa remote control untuk penjualan BBM berjenis Pertalite, Pertamax, Pertamina Dex, Dexlite, dan Solar yang dilakukan petugas SPBU

“Petugas SPBU mencurangi penjualan BBM dengan cara melakukan pengaturan pada mesin dispenser yang sudah dimodifikasi menggunakan remote control.” ungkap Shinto dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Rabu (22/6/2022).

Atas perkara tersebut, kata Shinto, pihaknya menetapkan dua orang tersangka, yaitu BP (68) yang menjabat sebagai manager SPBU dan FT (61) sebagai pemilik tempat usaha SPBU.

Advertisement

Di tempat yang sama, Kasubbid I Industri Perdagangan dan Investasi (Indagsi) Ditreskrimsus Polda Banten Kompol Chandra Sasongko menambahkan, para pelaku dengan sengaja menambahkan komponen elektrik remote control serta saklar otomatis pada dispenser SPBU dalam memperdagangkan BBM jenis Pertalite, Pertamax, Pertamina Dex, Dexlite, dan Solar yang mengakibatkan tidak sesuai ukuran takaran timbangan atau jumlah selain menurut ukuran yang sebenarnya, isi bersih, berat bersih, atau jumlah yang sebenarnya.

Dari hasil pemeriksaan, lanjut Chandra, diketahui kecurangan penjualan BBM telah berlangsung sejak 2016 sampai Juni 2022 dan mendapatkan keuntungan ekonomis.

“Dari hasil pemeriksaan para pelaku menjalankan kecurangan penjualan BBM ini mendapat keuntungan sebesar Rp4 juta sampai Rp5 juta per hari, dengan jumlah keuntungan sekitar Rp7 miliar,” bebernya.

Dalam pengungkapan kasus itu, kata Chandra, penyidik menyita beberapa barang bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP) berupa 2 unit remote control, 4 alat relay yang terpasang pada masing-masing dispenser BBM, 1 bundel slip setoran margin, 1 bundel slip setoran surplus, 4 unit handphone, 7 bundel arsip berita acara permodalan SPBU Nomor : 34-42117, 4 unit CPU, 1 buah ATM, 1 buah buku tabungan, dan 2 bundel rekening koran.

“Para pelaku dijerat dengan pasal berlapis yaitu Pasal 8 ayat 1 huruf c Jo Pasal 62 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau Pasal 27, Pasal 30 Jo Pasal 32 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal Jo Pasal 55 ayat 1 dan atau Pasal 56 dengan hukuman minimal 5 tahun penjara,” ancamnya.

Terkait itu, Maman Arifrahman sebagai Fungsional Pengawas Kemetrologian yang juga selaku saksi ahli dari Metrologi Ilegal mengaku sudah melakukan pemeriksaan di SPBU Kibin.

“Kita telah melakukan pengujian atar dengan menggunakan alat yang namanya Push secara ukur standar yang kapasitasnya 20 liter, kita uji di dispenser 01 dengan temuan susutnya kurang lebih 500 ml,” jelasnya.

Maman menambahkan, jumlah susut tersebut takarannya jauh melebihi batas yang diizinkan oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 tentang Teknis Bejana Ukur.

Yuniarso, Penyidik Pegawai Negri Sipil Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) yang juga selaku Saksi Ahli menegaskan, pelaku usaha dalam memperdagangkan barang dan jasanya tidak boleh mengurangi hak-hak konsumen untuk di layani dengan benar dan jujur.

“Kami mengapresiasi kepada Ditreskrimsus Polda Banten atas pengungkapan kecurangan penjualan BBM yang merugikan konsumen. Kami siap membantu dan berkoordinasi dengan Polda Banten untuk mengawasi agar menghindari kecurangan di SPBU lainnya.” tegas Yuniarso. (Hendra Hermawan/zai)

Back to top button