Sosial Budaya

Hasan Alaydrus: Dari Mengislamkan Baduy Hingga Bentuk Provinsi Banten

Kisah perjuangan membentuk Banten menjadi salah satu provinsi di Indonesia tidak hanya dimulai tahun 1990-an, tetapi bisa dilacak ke belakang pada tahun 1960-an. Di periode itu tercatat nama Hasan Alaydrus, lelaki kelahiran 17 Agustus 1944 yang sempat mengenyam penjara selama empa bulan, gara-gara pembentuk provinsi tersebut.

Tak hanya soal perjuangan membentuk Provinsi Banten, Hasan Alaydrus juga tercatat berhasil mengislamkan 1.000 orang Baduy, suku yang mengasingkan diri di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Apalagi, keberhasilan itu di tengah isu Kristenisasi yang begitu kencang di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

Hasan Alaydrus dikenal sebagai pribadi yang unik. Ketika teman-teman sepermainannya sedang keranjingan budaya pop, pria yang dikenal dekat dengan warga Baduy itu malah memilih profesi sebagai tukang memandikan, mengkafani, mensalati dan mengubur orang mati. Kebiasaan itu dijalaninya sejak Hasan masih berusia 13 tahun.

“Jabatan sebagai tukang memandikan orang mati, saya warisi dari orangtua dan kakek. Terus terang, saya bangga bisa melakukan pekerjaan yang tidak semua orang mampu melakukannya tersebut, termasuk jika yang meninggal itu warga Baduy,” ujar Hasan Alaydrus mengenang masa-masa remajanya yang tak lazim bagi kaula muda sekarang.

Advertisement

Kebiasaan mengurus orang mati, tampaknya berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup Hasan. Sebab selain dibutuhkan skill, memandikan dan mengkafani orang mati memerlukan keberanian yang besar. Tidak semua orang bisa menjadi tukang memandikan mayat.

Boleh jadi, pengalamannya memandikan dan mengkafani mayat itu sangat mempengaruhi lelaki berambut ikal dan keturunan ulama besar itu. Dia tak pernah kenal takut ketika mengungkapkan kebenaran (kul al-haq wa lau kaana murron).

Karena tak mengenal rasa takut, dampak positifnya, di sejumlah organisasi yang diikuti, nama Hasan selalu bertengger pada jajaran pengurus teras. Mantan wartawan Pelita pada 1972-1973, nampaknya ditakdirkan sebagai pemimpin.

Selain pernah duduk di kursi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten, Hasan Alaydrus juga pernah memegang amanah sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Banten.

Untuk bisa menjadi orang pertama di organisasi para intelektual itu, melewati seleksi yang ektra ketat. Tak semua aktivis bisa mencapai kedudukan terhormat tempat berkumpulnya para ahlu alfikr (insan tercerahkan) tersebut.

Meski mencatat banyak prestasi, Hasan Alaydrus tetap sederhana dalam keseharian, semisalnya makan di atas amben bersama istrinya. Foto: Keluarga Hasan Alaydrus

Sejak aktif di Muhammadiyah, mantan Ketua Gerakan Anti Komunis (Gerak) Banten ini berhasil meng-Islamkan 1.000 warga Baduy. Ia pula yang memelopori berdirinya pusat kajian Islam di Baduy, lewat pesantren dan masjid yang dibangunnya di tengah perkampunga Baduy Luar.

Dalam dunia keulamaan, bapak enam putera itu juga tak pernah ketinggalan. Ketika pemilihan orang nomor satu di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten yang pertama, nama Hasan sempat memepet populeritas Prof. KH. Wahab Afif, MA, ketika itu Rektor Institut Agama Islam Banten (IAIB). Sejumlah ulama yang hadir dalam pemilihan bursa calon Ketua MUI, tak sedikit yang menjagokannya.

Namun, dalam sebuah perebutan suara yang dilakukan secara rahasia, Hasan harus mengakui keunggulan seniornya itu. Dengan kekalahan tipis dari Prof Wahab, Hasan menerima kedudukan sebagai Ketua I pada kumpulan para pewaris nabi itu.

Keterpanggilan alumnus Akademi Penerangan dalam perjuangan menghantarkan Banten ke pintu gerbang provinsi, berawal dari pengamatan empirisnya tentang kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat.

Meski bersebelahan dengan Ibu Kota RI dan secara geografis menjadi jembatan penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera, namun pembangunan di Banten seperti hidup segan mati tak mau.

Sementara masyarakatnya memiliki warisan potensi alam yang melimpah. Kenyataan ini, dianggapnya seperti ayam kelaparan di lumbung padi. Maka, meski pada waktu itu usianya baru menginjak 20-an tahun, Hasan muda telah aktif membantu para seniornya merumuskan masa depan Banten.

Perjuangan mengibarkan bendera provinsi, dikobarkannya baik lewat pidato di mimbar maupun teriakan dalam demonstrasi.

Sebelum menjabat sebagai Sekjen Bakor Mahasiswa Jabar 1971-1973 dan sempat kuliah dua semester di Fakultas Publisistik Unpad Bandung, Hasan bergabung dengan para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).

Di organisasi yang banyak melahirkan putera bangsa yang idealis ini, Hasan sempat dipercaya menjadi Ketua Umum PII Jabar (1970-1972). Setelah dinilai berhasil menghantarkan PII Jabar ke era keemasan, Hasan ditarik ke Jakarta, menduduki jabatan Ketua Umum PII Pusat (1972-1973).

Saat itu, semangat perjuangan menggolkan bola Banten menuju gawang provinsi semakin memudar. Satu persatu para pejuang provinsi di daerah santri itu kehabisan tenaga. Penyebabnya hanya satu, pemerintah Orba terlanjur mencurigai kesucian niat para pejuang Banten.

Selain dicurigai telah ditunggangi antek-antek PKI, misi para pejuang provinsi era 60-an juga dianggap telah dicemari khitoh para grilyawan Darul Islam. Kecurigaan pemerintah yang tanpa dasar itu, semakin memperpuruk mental para kesepuhan Banten tempo dulu.

Padahal keinginan mereka hanya satu, memperbaiki nasib anak cucu yang akan menjadi pewaris kejayaan yang pernah eksis di daerahnya. Ketika pada tahun 90-an api perjuangan masyarakat Banten menuju provinsi kembali menyala, Hasan Alaydrus kembali menjadi salah seorang motor penggerak.

Dari sejumlah organisasi yang ada, mantan pemain bola pada era 60-an itu lebih sreg bergabung dengan kawan-kawannya di Komite Pembentukan Provinsi Banten.

Di sini, mantan Ketua PSSI Lebak itu kembali bertemu dengan kawan-kawan seperjuangannya tempo dulu. Salah satu di antaranya Uwes Qorny, teman sekamar semasa di sel dulu. Uwes menjadi Ketua Umum Komite Pembentukan Provinsi Banten, sedang Hasan menjadi wakilnya. (**)

Penulis: Syair Asyiman

Editor: IN Rosyadi

Tulisan ini disadur dari newsmedia.co.id, Lihat halama aslinhya KLIK DI SINI.

Back to top button