Agama

Konten Keagamaan di Medsos Didominasi Narasi Intoleran dan Radikal

SERANG, LB– Lebih dari 67 persen konten-konten keagamaan di media sosial (medsos) bernarasi intoleran dan radikal. Hal itu diungkapkan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjend Pol R Ahmad Nurwakhid usai menghadiri acara Launching (peluncuran) Pencegahan Kewaspadaan Dini Masyarakat Membangun Narasi Media Cegah Radikal Terorisme di Hotel Horison Ultima, Kota Serang, Senin (11/10/2021).

Nurwakhid menilai, peran media signifikan dalam melakukan kontra radikalisasi, terutama kontra idieologi, kontra propaganda, dan kontra narasi, terutama narasi keagamaan.

“Saat ini hasil di berbagai lembaga survey bahwa lebih dari 67 persen konten-konten keagamaan di media sosial didominasi konten keagamaan yang intoleran dan radikal,” ungkap Nurwakhid.

Hal itu, sambung Nurkhwahhid, menjadi kewaspadaan pihaknya untuk mencegah mencuatnya narasi-narasi intoleran dan radikal di medsos.

Advertisement

“Biasanya isu keagamaan strategi kaum radikal ada tiga, pertama menyesatkan, mengaburkan, dan menghilangkan sejarah bangsa supaya hilang jati diri bangsa,” bebernya.

Selain itu, lanjut Nurkhwahid, menghancurkan budaya dan kearifan lokal dengan narasi bid’ah dan sesat. Mengembangkan narasi paradigma intoleran terhadap keberagaman yang sudah menjadi realita bangsa Indonesia yang majemuk, plural, dan heterogen. Terakhir, isu sara mengadu domba anak bangsa dengan narasi intoleransi dan isu sara, ras, suku, agama tapi yang dikedepankan agama.

“Akarnya sebenarnya agama dipolitisasi untuk kepentingan politik. Sebenarnya ini gerakan politik yang ingin mengambil alih kekuasaan,” nilainya. (Hendra Hermawan/zai)

Back to top button