News

Laporan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Tangerang Meningkat

Kecamatan Pinang Menjadi Wilayah Kasus Kekerasan Tertinggi

TANGERANG, LB– Laporan kasus kekerasan perempuan dan anak di Kota Tangerang meningkat 20 persen disbanding tahun sebelumnya. Dari 81 kasus pada 2020, tahun ini hingga awal Oktober laporan kekerasan sudah mencapai 87 kasus dengan jumlah korban mencapai 98 orang.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengedalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Jatmiko menilai, kesadaran masyarakat dalam melaporkan kasus kekerasan di wilayahnya meningkat. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya laporan kasus kekerasan perempuan dan anak di Kota Tangerang dibandingkan tahun lalu.

“Jadi, angka pelaporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tangerang tahun ini mengalami kenaikan 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2020 hanya 81 laporan kasus, tahun ini per Oktober laporan kekerasan perempuan dan anak sudah 87 kasus dengan korban 98 orang,” ungkap Jatmiko kepada LingkarBanten.Com di ruang kerjanya, Senin (4/10/2021).

Menurutnya, kenaikan angka pelaporan kasus lebih kepada meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tindak kekerasan dan mau melaporkan. Jatmiko pun merinci, laporan kasus kekerasan tahun ini terbagi atas 41 kasus dialami perempuan dewasa, 40 kasus dialami anak perempuan, dan 18 kasus dialami anak laki-laki.

Advertisement

“Untuk kasus kekerasan terhadap anak totalnya 46 kasus, dimana jenis pencabulan yang tertinggi,” bebernya.

Adapun kasus tertinggi, disebutkan Jatmiko, yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), disusul kasus pelecehan. Semua kasus yang dilaporkan, dipastikan Jatmiko, sudah berhasil ditangani dan diberikan pelayanan serta pendampingan.

“Untuk tindak ketegasannya ada di APH (Aparat Penegak Hukum),” jelasnya.

Jatmiko menyampaikan, wilayah yang rentan terjadi tindak kekerasan perempuan dan anak ada di Kecamatan Pinang, karena memiliki kasus tertinggi dibanding wilayah lainnya dari jenis kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kami lakukan pendampingan bagi para korban, serta konsultasi hukum tanpa dipungut biaya. Psikolog juga kami hadirkan sebagai upaya pemulihan mental korban,” katanya.

Jatmiko pun meminta warga tidak segan-segan melaporkan jika mengalami atau melihat tindak kekerasan terhadap perempuan atau anak. Laporan bisa disampaikan melalui petugas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di tingkat RT/RW, Klinik Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) tanpa dikenai biaya.

Kata Jatmiko, pihaknya sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang siaga menerima laporan dan menindaklanjuti tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Katanya, ada 13 Satgas di setiap Kecamatan yang telah difungsikan untuk menyerap informasi dan menanggulangi laporan kekerasan perempuan dan anak. Selain itu juga, pihaknya sudah memiliki 2.600 personil PTMB yang sudah dilatih dan hadir di tingkat kelurahan, sehingga pelayanan pengawasan tindak kekerasan semakin dekat dengan masyarakat.

“Satgas ini bekerjasama dengan Kepolisian, Kejaksaaan, Kementerian Agama, dan selalu melakukan evaluasi bersama. Mereka siap sedia menerima laporan dari warga, sehingga dapat dilakukan penangangan lebih dini,” tutupnya. (Eky Fajrin/zai)

Back to top button