Milenial

Nur Amrin, Sukses Jadi Jurnalis Kini Menjabat Staf Khusus Bupati Serang

SERANG, LBC – Setelah sukses meniti karir di dunia jurnalistik dengan jabatan terakhir sebagai Koordinator Liputan (Korlip) di salah satu media cetak ternama di Banten, Nur Amrin kini banting setir merambah karir di instansi pemerintahan menjadi orang penting di tubuh kepala daerah di Kabupaten Serang.

Ya, pria berparas ganteng yang akrab disapa Mas Amrin ini, kini menjabat sebagai Staf Khusus Bupati Serang Bidang Media yang tingkatannya bisa dibilang sejajar dengan pejabat eselon II. Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Amrin, yakni menjadi katalisator antara eksekutif pemerintah daerah dengan media dan memaksimalkan proses sosialisasi, publikasi, serta mengekspose kerja-kerja bupati dan wakil bupati, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang kepada publik.

Amrin yang memegang prinsip jujur dan bertanggung jawab dalam bekerja ini mengawali karir sebagai seorang jurnalis sukses di salah satu media cetak terbesar di Banten, berkat tulisannya yang dikenal luas, terutama oleh kalangan pejabat Pemprov Banten dan Pemkab serang. Karya tulisan Amrin bahkan tak jarang membuat pusing dan gerah para pejabat. Namun kini, lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Matematika Untirta itu, kini sukses menjadi bagian penting di Pendopo Bupati Serang.

“Kita manusia hanya bisa berencana dan Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dimana harusnya kuliah FKIP Matematika Untirta menjadi guru, tapi saya saya tidak memilih profesi itu. Bukan berarti profesi guru kurang baik, justru sangat baik. Makanya, belum cocok buat saya yang memang merasa belum baik. Jadi, akhirnya setelah lulus tidak mengambil profesi guru, tetapi lebih memilih profesi jurnalistik,” tutur Amrin dalam sebuah wawancara di BantenPodcast (lingkarbanten.com dan mediabanten.com group), Jalan Polda, Mayabon, Kelurahan Banjar Asri, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, beberapa waktu lalu.

Advertisement

Alasan Amrin memilih dunia pers, karena menilai profesi yang dikenal sebagai kuli tinta itu merupakan pilar demokrasi keempat meski tidak masuk dalam tatanan perundang-perundangan. Terjun di dunia jurnalistik, Amrin berkeinginan mengubah sesuatu yang belum baik menjadi baik. Karena menurutnya, posisi wartawan tidak berada pada posisi eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

“Makanya saya memilih pers agar bisa mengubah tatanan pemerintahan, sosial politik, dan sebagainya. Walaupun tidak banyak, tetapi minimal saya ada upaya ke arah sana,” terangnya.

Dijelaskan Amrin, lulusan Matematika tidak menghambatnya berproses menjadi seorang wartawan. Menurut Amrin, matematika bukan hanya ilmu tentang hitung menghitung, ilmu rumus, algoritma, maupun Instagram turunan sampai analistril, melainkan juga ada istilah logika matematika. Itulah yang membuat pola pikir Amrin jika interaksi sosialnya menjadi lebih terarah.

“Kuliah matematika bukan persoalan tambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian, tapi ada interaksi sosial di dalamnya,” ujar bapak dua anak ini.

Amrin pun mencontohkannya dengan menebak tanggal lahir host Banten Podcast Beni Suhendra berdasarkan rumus matematika. Rumusnya tanggal lahir dikali 5 ditambah 6 dikali 4 ditambah 9 terus dikali 5 ditambah bulan kelahiran dan hasilnya 1.767. Dengan angka itu pula Amrin berhasil menebak jika tanggal lahir Beni yaitu 16 Februari.

“Itulah matematika, matematika bisa mengubah pola sulap, tebakan, bahkan di medsos (media sosial) pakai sistem algoritma matematika. Contoh algoritma Ig, FB, Youtube, hingga Tiktok,” katanya.

Baca Juga : Kadindikbud Kab Serang : Dua Tahun Covid, Anak Tidak Kenal Gurunya

Proses menjadi jurnalistik, Amrin mengaku sempat belajar singkat tentang dunia jurnalistik, mulai dari belajar kode etik jurnalistik dan undang-undang pers melalui buku yang dibelinya di toko buku bekas di samping kampus Untirta. Amrin menghabiskan dua hari untuk belajar tentang jurnalistik, apa itu lead berita, judul dan isi berita, apa itu kutipan langsung dan tidak langsung, baru setelah itu Amrin berani melamar menjadi wartawan.

“Dari belasan orang yang melamar, ada beberapa yang sarjana komunikasi itu lewat, malah sarjana matematika yang terpilih,” akunya bangga kala itu.

Sejak menjadi jurnalis, Amrin terus memperdalam ilmu tulisannya hingga membuat pusing para pejabat. Amrin cukup lama berada di lingkungan dunia jurnalis, terhitung sejak 2009 sampai 2017 atau sekira Sembilan tahun, dimana saat Amrin bekerja saat itu perusahaan tempatnya bekerja sedang berjaya. Amrin yang memang berjiwa kritis karena pengalamannya di organisasi kampus tidak menyangkal jika selama menjadi wartawan pernah mempunyai pengalaman rasanya diintimidasi.

“Jadi, saya tidak pernah meng-attacking (menyerang) dari sisi pribadi. Saya selalu mengkritisi sisi kebijakan. Misalkan zaman pemerintahan Ibu Atut, dulu saya ikut mengawal proses dana hibah, kemudian kebijakan liputan dewan gimana proses anggaran reses yang ternyata tanda kutif manipulatif, dan semua memang gerah,” ceritanya berbagi pengalaman.

“Saya bukan nyerang sisi pribadi tapi ada tatanan pemerintahan, anggaran yang harus diperbaiki,” imbuhnya.

Terkait intimidasi, itu saat Amrin menulis pemberitaan tentang penambangan pasir illegal di wilayah Curug, Kota Serang. Amrin mengaku saat itu masuk melakukan pola investigasi dan pola reportase sehingga menghasilkan tulisan yang menjadi pusat perhatian dan memancing emosi tertuduh.

“Intimidasi itu muncul melalui ponsel nyari saya ke kantor, ke teman-teman saya, dan sebagainya, itu luar biasa bernada ancaman. Tapi itu tidak menghentikan saya untuk tetap kritis sampai penambangan pasir itu ditutup,” paparnya.

Pengalaman lain saat masih menjadi jurnalis yaitu saat Amrin melamar istrinya. Kala itu, menurut Amrin, tidak mudah menikah bagi seorang menjadi wartawan karena citranya dianggap kurang baik akibat banyaknya oknum yang memanfaatkan profesi tersebut untuk mencari keuntungan tertentu.

“Orang bilang tuh tanda kutip wartawan bodrek dan sebagainya, dan itu tersasumsi di masyarakat bahwa wartawan saat itu memang harus dipacu menjadi wartawan profesional. Makanya, tantangannya ketika saya ngelamar dengan profesi wartawan, kata mertua wartawan tuh yang suka begini begitu, lalu saya jelaskan bahwa saya tidak begitu, Alhamdulillah diterima dan menikah sampai punya anak,” kenangnya.

Akhirnya, pada 2017 profesi jurnalis pun ditinggalkan Amrin dengan berbagai alasan dan dipercaya oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasnaah mengemban jabatan Staf Khusus Bupati Serang Bidang Media. Amrin yang memegang prinsip jujur dan tanggung jawab, serta totalitas saat bekerja dihadapkan harus memilih kala itu, yakni tetap menjadi jurnalis atau harus keluar. Padahal, menurut Amrin, secara finansial menjadi seorang jurnalis terbilang aman sampai mempunyai rumah, menikah, dan lain sebagainya.

“Tapi saya harus memilih, tetap di perusahaan media yang membesarkan saya dan saya ikut membesarkan media itu. Tapi saya termasuk orang suka tantangan. Orang matematika itu kalau ada masalah harus selesai sampai tuntas,” tegasnya.

Amrin juga mengaku sempat menjadi pengangguran setelah keluar dari profesi jurnalistik selama beberapa bulan dan dimanfaatkannya untuk menikmati waktu bersama keluarga. Soalnya, pengakuan Amrin, selama bekerja di media jarang mempunyai waktu berkumpul dengan keluarga.

“Soalnya saat masih di media, saya terpacu oleh deadline, saya berangkat pagi pulang malam. Pas saya berangkat kerja anak masih tidur, saya pulang kerja anak sudah tidur,” katanya.

Sampai akhirnya, Amrin diminta menjadi Staf Ahli Komisi V DPRD Banten merangkap Staf Khusus Bupati Serang atau dua profesi berbeda APBD. Namun, Amrin hanya bertahan sekira satu tahun menjadi Staf Ahli Komisi V DPRD Banten memilih mundur dan konsentrasi menjadi Staf Khusus Bupati Serang Bidang Media.

“Bisa saja merangkap, tapi menurut saya kalau kerja sesuatu saya milih fokus. Saya memilih posisi Staf Khusus Bupati, karena Bupati Serang itu menurut saya visioner, kepala daerah yang tengah mengubah Kabupaten Serang menjadi lebih baik dan saya terdorong harus bantu beliau mewujudkan cita-citanya itu.

Apalagi, Amrin mengaku sudah cukup akrab dengan sosok Bupati Serang saat masih menjadi wartawan sampai akhirnya Bupati Serang menawarkannya menjadi salah satu dari empat Staf Khusus Bupati Serang. Tugasnya, Amrin membantu Bupati Serang menjadi katalisator antara eksekutif pemerintah daerah dengan media, memaksimalkan proses sosialisasi, publikasi, dan juga mengekspose kerja-kerja kepala daerah, juga Pemkab Serang kepada publik.

“Kita selalu terbatas media itu terkait wartawan, jurnalistik. Nah sekarang media itu lebih luas, termasuk media sosial dan dunia digital terus berkembang. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus diarahkan ke sana. Kinerja bupati dan wakil bupati terekspose maksimal di media, media massa, sekarang harus masuk lagi di medsos yang luar biasa, termasuk podcast. Nah, saya tugasnya menyambungkan kepentingan media dengan ibu bupati,” jelasnya

Selain menjadi Staf Khusus Bupati Serang, Amrin juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) menjabat Ketua Bidang Organisasi PMI Banten dan Wakil Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO) DPD Golkar Banten.

“Saya enggak mau jadi dewan. Perjalanan hidup bisa saja. Tapi sampai saat ini belum mau dan tidak terpikir menjadi anggota dewan. Kenapa demikian? Menurut saya kita bisa kerja dimana pun yang bermanfaat bagi orang lain tanpa harus punya posisi tinggi banget,” pungkasnya. (zai)

Selengkapnya bisa ditonton di kanal BantenPodcast di bawah ini. Jangan lupa subscribe, like, and share.

Back to top button