HeadlineHukrim

Polda Banten Amankan Pemalsu Dokumen Ratusan Hektare Tanah

Ada Kaitan dengan Tanah Sitaan KPK

SERANG, LBC-Seorang warga di Kelurahan Drangong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang berinisial RMT (63) ditangkap Satuan Petugas (Satgas) Mafia Tanah Polda Banten. Pelaku yang merupakan wiraswasta ini diduga melakukan tidak pidana pemalsuan surat tanah ratusan hektare di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang.

Pemalsuan Akta Jual Beli (AJB) seratus hektare tanah tersebut, bahkan sebagian lahannya ada yang berkaitan dengan sitaan Komisi Pemberangtasan Korupsi (KPK).

Dirreskrimum Polda Banten Kombes Pol Ade Rahmat mengungkapkan, pengungkapan kasus tersebut berdasarkan Laporan Polisi (LP) dari lima warga.

“Satgas kemudian melakukan penyelidikan laporan para pelapor yang saling terkait dengan obyek 824 AJB tanah di wilayah Kelurahan Banjarsari seluas 100 hektare,” ungkap Ade saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Rabu (29/9/2021).

Advertisement

Penyelidikan yang dilakukan Satgas dengan membandingkan bukti otentik pelapor, kata Ade, ditemukan pelaku melakukan pemalsuan surat tanah dengan memberikan keterangan palsu.

“Pemalsuan itu ternyata sudah dilakukan pelaku sejak tahun 2007 kala pembebasan lahan tahun 1995. Pelaku melakukan modus menaikan status tanah menjadi sertifikat dari status AJB melibatkan masyarakat yang seolah-olah menjadi pemilik tanah atau ahli waris,” terangnya.

Dalam aksi itu, pelaku memalsukan seluruh dokumen yang terkait dengan tanda tangan, sidik jari, dan kepemilikan tanah. Lalu, pelaku menyuruh seseorang mengaku sebagai pemilik lahan. Pihaknya juga sudah memeriksa para saksi yang disuruh sebagai pemilik lahan.

“Padahal saksi merasa tidak memiliki lahan. Bahkan ada pemilik lahan merasa tidak pernah menjual, tidak pernah menandatangani tapi ada tanda tangannya. Ada juga sidik jarinya tidak sesuai, menggunakan sidik jari orang lain,” jelasnya.

Dari penangkapan tersangka, lanjut Ade, pihaknya mengamankan barang bukti berupa bundel AJB Nomor 729 tahun 1995 lebih dari 100 minuta asli AJB, daftar himpunan ketetapan pajak (DHKP), peta blok, letter C, peta rincik legalisir, buku tanah, serta beberapa lembar kwitansi.

Pasal yang disangkakan kepada tersangka, diungkapkan Ade, yakni Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat dan Penggunaan Surat Palsu dengan ancaman 6 tahun penjara, Pasal 266 KUHP tentang Pidana Menyuruh Masukkan Keterangan Palsu ke Dalam Akte Otentik dengan ancaman 7 tahun penjara, dan Pasal 385 KUHP tentang Penggelapan Hak atas Benda Tidak Bergerak dengan ancaman 4 tahun penjara.

Terkait ada tanah yang tengah disita KPK, sambung Ade, pihanya sedang berkoordinasi dengan KPK karena di lahan itu sedang terjadi pembangunan proyek perumahan. Pihak pengembang juga mengaku mendapatkan izin untuk pembangunan, di satu sisi ada sebagian kecil tanah sitaan KPK.

“Untuk penyelidikan selanjutnya, kami akan koordinasi dengan KPK. Situasi di lapangan, pengembang sendiri sudah bersurat dan mengantongi izin,” tegasnya.

Sementara itu, tersangka RMT kepada wartawan membantah telah memalsukan AJB. Ia mengaku membeli tanah itu dari warga sejak 20 tahun ke belakang.

“Karena itu hampir 20 tahun ke sini, masyarakat kalau mengatakan dia palsu, masyarakat marah ke saya. Artinya, saya dengan masyarakat dan pemilik tanah transaksi dengan saya di kantor saya dan mereka menyetujui. Saya tidak sendiri. Kalau itu salah, pihak lurah tidak akan menandatangani,” kilahnya. (Hendra Hermawan/zai)

Back to top button