Agama

Sarana Ibadah Warga 7 Kampung, Masjid Bersejarah di Tanjungsari Direnovasi

SERANG, LBC– Dinilai sudah mulai rapuh, Masjid Baitul Muslimin yang mempunyai nilai sejarah di Kampung Kadu Kacapi, Desa Tanjungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang direnovasi dengan biaya swadaya masyarakat setempat sambil bergotong royong. Masjid yang sudah berdiri sejak 1945 itu, menjadi pusat sarana ibadah warga tujuh kampung di desa tersebut.

Sejumlah warga tampak kompak bergotong royong merenovasi masjid yang ukurannya cukup besar dan luas itu. Namun baru beberapa bagian saja dari bangunan yang direnovasi disinyalir keterbatasan biaya.

Kepala Desa (Kades) Tanjungsari Zainal Arifin mengatakan, renovasi Masjid Baitul Muslimin merupakan inisiatif warga karena menjadi pusat sarana ibadah warga tujuh kampung di Desa Tanjungsari, selain bertujuan supaya warga bisa beribadah lebih nyaman. Diungkapkan Zaenal, Masjid Baitul Muslimin merupakan bangunan bersejarah dan sudah berdiri sejak 1945. Masjid juga rutin dimanfaatkan warga untuk kegiatan perayaan hari-hari besar keagamaan.

Dalam pengerjaannya, kata Zaenal, renovasi masjid menggunakan dana swadaya warga setempat dan pengerjaannya dilakukan dengan cara warga bergotong royong secara bergiliran.

Advertisement

Alhamdulillah warga sangat antusias untuk memiliki masjid yang bagus dan nyaman, terbukti warga setiap bergotong royong begitu semangat,” tutur Zaenal kepada lingkarbanten.com, Rabu (15/9/2021).

Zainal pun mengapresiasi langkah panitia renovasi masjid yang dengan ikhlas mencari dan mengumpulkan dana dari warga untuk kelancaran proses renovasi masjid. Proses pengumpulan dana renovasi juga dilakukan secara transparan, karena melibatkan tokoh masyarakat setempat.

“Minta doa dan dukungannya semoga renovasi masjid ini bisa diselesaikan,” pintanya.

Senada disampaikan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kiai Mohammad Ghozi yang mengatakan, masjid mendesak direnovasi karena kondisi bangunan yang sudah tidak layak selain khawatir dapat membahayakan warga yang sedang beribadah. Untuk itu, kata Kiai, tokoh masyarakat dan warga setempat berinisiatif iuran dan bergotong royong merenovasi masjid demi memberikan kenyamanan dan kekhusyukan warga saat beribadah.

“Masjid direnovasi karena bangunannya sudah lapuk dan ini menyangkut keselamatan warga yang sedang beribadah. Kami baru perbaiki beberapa bagian masjid karena keterbatasan anggaran,” akunya.

Kiai berharap, ada dermawan yang sudi menginfakkan sebagian hartanya untuk mewujudkan pembangunan masjid di wilayahnya agar lebih nyaman lagi saat digunakan warga saat beribadah.

Ketua Panitia Renovasi Masjid Juheni berfoto bersama warga yang bergotong royong merenovasi masjid.

Di tempat yang sama, Ketua Panitia Renovasi Masjid Baitul Muslimin, Juheni menambahkan, sejauh ini renovasi Masjid Baitul Muslimin pembiayaannya berasal dari swadaya warga tujuh kampung yang biasa memanfaatkan sarana ibadah tersebut.

Rata-rata, kata Juheni, warga menyumbang uang sebesar Rp50 ribu berikut beras satu liter. Demi kelancaran renovasi masjid, kata Juheni, panitia membagi tugas dalam pengerjaannya, yakni setiap hari 30 warga yang ikut bergotong royong secara bergiliran.

Untuk lebih memperlancar proses renovasi dan supaya cepat tuntas sehingga bisa segera dimanfaatkan warga, Juheni berharap, ada dermawan dari pihak pemerintah daerah atau pihak swasta yang bisa membantu meringankan biaya penyelesaian renovasi masjid di wilayahnya itu.

“Ini investasi akhirat. Untuk itu, kami mengetuk hati para dermawan agar sudi kiranya menyisihkan sedikit rezekinya demi kelancaran pembangunan masjid,” ajaknya. (dik/zai)

Back to top button