HeadlinePeristiwa

Unjuk Rasa Mahasiswa Himata di Kantor Bupati Tangerang Ricuh

Satu Mahasiswa Pingsan di Smackdown, 24 Ditahan

TANGERANG, LB– Aksi unjuk rasa mahasiswa yang tergabung Himpunan Mahasiswa Tangerang Banten Raya (Himata BTR) di depan kantor Bupati Tangerang, Rabu (13/10/2021) berlangsung ricuh. Kondisi itu pun disesalkan Anggota DPRD Provinsi Banten Daerah Pemilihan (Dapil) Tangerang Ade Awaludin.

Awalnya, aksi unjuk rasa berlangsung. Seperti biasa mahasiswa melakukan orasi untuk menyampaikan aspirasi. Namun, massa terus berusaha maju mendekati Kantor Bupati Tangerang, sehingga dihadang puluhan aparat. Akibatnya, antara mahasiswa dan aparat keamanan dari kepolisian saling dorong. Lantaran kericuhan semakin tak terkendali, aparat akhirnya bertindak menangkapi provokator aksi.

Dalam video yang beredar, salah seorang mahasiswa yang dianggap sebagai provokator ditarik polisi dari kerumunan massa. Badannya lalu dikunci dan diangkat kemudian dibanting hingga tergeletak di lantai dan tidak berdaya. Sejumlah orang yang diduga juga anggota polisi menghampiri mahasiswa itu dan berusaha membantunya bangkit.

Menanggapi kejadian itu, Ade yang juga selaku mantan Ketua Umum Forum Himata atau Himata Nasional Periode 2002 – 2004 mengaku prihatin, karena tindakan pembantingan mahasiswa yang sedang berunjuk rasa itu kurang manusiawi. Soalnya, Ade menilai, Himata merupakan organisasi mahasiswa putra daerah yang tidak mungkin merusak fasilitas umum (fasum) atau milik pemerintah.

Advertisement

“Mereka bukan anggota teroris atau anggota (separatis-red) KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata), tapi kader-kader daerah. Saya tidak yakin kalau mereka sampai berniat merusak fasum. Buktinya aksi bakar pun tidak ada,” tukas Ade yang dikonfirmasi melalui sambungan whatsapp.

Ade juga mempertanyakan aparat pengamanan yang panik dengan suara- suara yang dilontarkan massa yang mewakili suara hati nurani rakyat agar aspirasinya tersampaikan kepada pihak Pemkab Tangerang. Hal itu guna menjadi bahan evaluasi bagi perbaikan Kabupaten Tangerang yang sudah berusia hampir empat abad ke depan. Lantaran itu, Ade meminta 24 mahasiswa yang kini ditahan karen aksi unras segera dipulangkan.

“Tindakan represif jelas bukan solusi. Bagaimana Kabupaten Tangerang yang sudah berumur tiga abad dalam menangani berbagai perbedaan masih saja dengan kekerasan, jangan-jangan itu bukan orang Tangerang,” tukasnya.

Terpisah, Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro mengatakan, kondisi 24 mahasiswa dari Himata saat ini sedang dilakukan swab dan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan salah seorang mahasiswa yang sempat dibanting oknum anggota keamanan, dipastikan Wahyu, saat ini sudah dibawa ke rumah sakit.

Ditegaskan Wahyu, pihak keamanan sudah diperintahkan agar menangani pendemo tanpa ada kekerasan.

“Dalam APP (Arahan Pimpinan Pasukan), saya sudah jelaskan agar tidak ada kekerasan. Kalau masih ada, berarti oknum anggota (Polri-red) tersebut akan saya tindak tegas,” ancam Wahyu. (Iqbal Kurnia-Mela Amelia/zai).

Back to top button