Peristiwa

Wartawan Diintimidasi Saat Meliput TPS Liar di Tangerang

TANGERANG, LBC– Peristiwa intimidasi terjadi terhadap seorang wartawan media online di Kota Tangerang berinisial GS. Yakni, saat peliputan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di bantaran Sungai Cisadane, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Peristiwa itu dialami GS pada Jumat (24/9/2021) sekira pukul 17.00 WIB. GS mengaku, intimidasi diawali GS saat sedang menjalani tugas jurnalistiknya di area gang Gaga, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang guna mendalami informasi keberadaan TPS liar. Di lokasi tersebut, dia mengambil foto dan mewawancarai seorang pemulung dan melakukan siaran langsung dalam bentuk video.

“Saya coba liputan, live juga, saya ambil gambar pemulung gitu. Mereka sedih juga karena enggak ada mata pencaharian lagi,” ceritanya kepada sesame rekan media, Rabu (29/09/2021).

Liputan GS awalnya berjalan lancar. Sampai akhirnya ketika pindah lokasi liputan ke Gang Menteng, GS dihadang seorang pria berbadan besar yang melarangnya meliput TPS liar. Meski telah peringatkan, GS tetap berusaha meliput dan mengambil gambar sambil merayu si pria yang mengaku sebagai tokoh masyarakat di wilayah tersebut. Namun, tetap GS dilarang.

Advertisement

“Saya masih nyoba ngambil gambar, minta izin, coba ngerayu, tapi tetep enggak dibolehin, malah disuruh pulang, keluar dari TPS itu,” katanya.

Saat hendak pulang, GS dibuat kaget karena kembali satu per satu warga mendatangi dan mengerumuninya. Bahkan, salah satu warga mencoba memprovokasinya dengan berteriak kalau GS sudah mengambil banyak foto di lokasi itu.

“Dateng-dateng berkerumun lebih dari sepuluh orang. Ada satu yang ngomong, ‘dia udah banyak ngambil foto tuh’ gitu!. Itu yang ngomong tukang bakso depan, karena yang lihat ngambil gambar dia,” tukasnya.

Dalam situasi itu, GS pun didesak untuk menghapus fotonya. Mempertimbangkan keselamatannya dan terus didesak, GS akhirnya menghapus foto tersebut.

“Terus saya disuruh ngehapus foto, saya minta disisain satu-dua foto, enggak dikasih. Jadinya dihapus semua. Saya masih ditanya-tanyain, mereka bilang enggak boleh,” keluhnya.

Padahal GS sudah menjelaskan jika profesinya wartawan dari Wartakota. Namun, puluhan warga itu tetap memintanya pergi dan menghapus semua fotonya.

“Dia bilang ini lagi banyak diberitain karena ngelanggar KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Jangan dulu diambil lagi karena lagi panas situasinya,” ujarnya.

Pria yang mengaku tokoh masyarakat itu pun akhirnya mengarahkan warga untuk keluar. GS pun menjelaskan jika kedatangannya itu tidak berniat jelek, hanya mengambil gambar saja.

“Mereka percaya akhirnya dan pas mau balik, saya disalamin,” pungkasnya. (Eky Fajrin/zai)

Back to top button